Pages

Miftakhul Furqon. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

DIKSI (PILIHAN KATA)

DIKSI (PILIHAN KATA)
Jika kita menulis atau berbicara, kita itu selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Definisi Diksi

Pilihan kata atau Diksi adalah pemilihan kata – kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan. Diksi  atau Plilihan kata mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
   
Fungsi Diksi 

Fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana. Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.


Manfaat Diksi 
1. Dapat membedakan secara cermat kata-kata denitatif dan konotatif, bersinonim dan hapir bersinonim, kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
2. Dapat membedakan kata-kata ciptaan sendiri fan juga kata yang mengutip dari orang yang terkenal yang belum diterima dimasyarakat. Sehingga dapat menyebabkan kontroversi dalam masyarakat.
  
Contoh Kalimat Diksi 
·         Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaaan masyarakat 
·         Dia adalah wanita cantik (denotatif) 
·         Dia adalah wanita manis (konotatif) 
·         APBN RI mengalami kenaikan lima belas persen (kata konkrit) 
·         Kebenaran (kata abstrak) pendapat itu tidak terlalu tampak

Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna :

•     Makna sebuah kata / sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :

1.    Makna Leksikal :  makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).

2.  Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.

3.  Makna Referensial dan Nonreferensial : Makna referensial & nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna nonreferensial). 


3.      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal.  Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.

          
e.      Satuan semantic
Seperti pada banyak bentuk bebas yang minimal yang disebut di atas ini, metode ini memilah-milah kalimat ke dalam kesatuan-kesatuan semantiknya yang paling kecil. Tetapi, bahasa sering memuat kata yang mempunyai nilai semantik kecil (dan sering memainkan peran yang lebih gramatikal), atau kesatuan-kesatuan semantik yang adalah kata majemuk.
Dalam prakteknya, para ahli bahasa menggunakan campuran semua metode ini untuk menentukan batas kata dalam kalimat. Namun penggunaan metode ini, definisi persis kata sering masih sangat sukar ditangkap.

Contoh diksi :

Dampak Pemanasan Global

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkankarena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Sumber :
http://dwiajisapto.blogspot.com/2011/02/diksi-pilihan-kata.html
http://www.bisnet.or.id/vle/mod/resource/view.php?id=1057
http://ryansikep.blogspot.com/2009/12/ciri-ciri-kalimat-efektif.html
http://zindriasihlinati.blogspot.com/2013/05/diksi-atau-pilihan-kata.html


»»  READMORE...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

EYD DAN Tanda Baca


I. Pemakaian huruf

A. Huruf abjad. Ada 26 yang masing-masing memiliki jenis huruf besar dan kecil.

B. Huruf vokal. Ada 5: a, e, i, o, dan u. Tanda aksen é dapat digunakan pada huruf e.

C. Huruf konsonan. Ada 21: b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
1.      Huruf c, q, v, w, x, dan y tidak punya contoh di akhir kata.
2.      Huruf x tidak punya contoh di tengah kata.
3.      Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu.

D. Huruf diftong. Ada 3: ai, au, dan oi.

E. Gabungan huruf konsonan. Ada 4: kh, ng, ny, dan sy.

F. Huruf kapital

1.      Huruf pertama kata pada awal kalimat
2.      Huruf pertama petikan langsung
3.      Huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan
4.      Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang
(tidak dipakai jika tidak diikuti nama orang)
5.      Huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, instansi, atau tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang
(tidak dipakai jika tidak diikuti nama orang, instansi, atau tempat)
huruf pertama nama jabatan atau instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya
6.      Huruf pertama unsur-unsur nama orang
(tidak dipakai pada de, van, der, von, da, bin, atau binti)
huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran
(tidak dipakai untuk nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran)
7.      Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa
(tidak dipakai untuk nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan)
8.      Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan unsur-unsur nama peristiwa sejarah
(tidak dipakai untuk peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama)
9.      Huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi dan unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi
(tidak dipakai untuk unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi dan nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis)
nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya
10.  Huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk
(tidak dipakai untuk kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi)
11.  Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan
12.  Huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah,kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal
13.  Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
14.  Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan
(tidak dipakai jika tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan)
15.  Huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan
16.  Huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.

G. Huruf miring

1.      Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan
2.      Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata
3.      Menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia (Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi)
Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.

H. Huruf tebal

1.      Menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran
2.      Tidak dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.
3.      Menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi dalam cetakan kamus.

II. Penulisan kata 
A. Kata dasar.
     Ditulis sebagai satu kesatuan.

B. Kata turunan

1. Ditulis serangkai dengan kata dasarnya: dikelola, permainan
2. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya, tapi unsur gabungan kata ditulis terpisah jika hanya mendapat awalan atau akhiran: bertanggung jawab, garis bawahi
3. Imbuhan dan unsur gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus: pertanggungjawaban
4. Ditulis serangkai jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi: adipati, narapidana
5. Diberi tanda hubung jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital: non-Indonesia
6.Ditulis terpisah jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar: maha esa, maha pengasih

C. Bentuk ulang. 
            Ditulis lengkap dengan tanda hubung: anak-anak, sayur-mayur.

D. Gabungan kata
1.      Ditulis terpisah antarunsurnya: duta besar, kambing hitam
2.      Dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan untuk mencegah kesalahan pengertian:alat pandang-dengar, anak-istri saya
3.      Ditulis serangkai untuk 47 pengecualian: acapkali, adakalanya,akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali,bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada,darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang,kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala,manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra,peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan,saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi,sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam.


E. Suku kata - Pemenggalan kata

1.      Kata dasar
1.      Di antara dua vokal berurutan di tengah kata (diftong tidak pernah diceraikan): ma-in.
2.      Sebelum huruf konsonan yang diapit dua vokal di tengah kata: ba-pak.
3.      Di antara dua konsonan yang berurutan di tengah kata: man-di.
4.      Di antara konsonan pertama dan kedua pada tiga konsonan yang berurutan di tengah kata: ul-tra.
2.      Kata berimbuhan: Sesudah awalan atau sebelum akhiran: me-rasa-kan.
3.      Gabungan kata: Di antara unsur pembentuknya: bi-o-gra-fi.

F. Kata depan. di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali daripada, kepada, kesampingkan, keluar, kemari, terkemuka.

G. Partikel

1.      Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya: betulkah, bacalah
2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya: apa pun,satu kali pun
3.      Partikel pun ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya untukadapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun,kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.

H. Singkatan dan akronim

1.      Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik: A.S. Kramawijaya, M.B.A.
2.      Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik:DPR, SMA
3.      Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik: dst., hlm.
4.      Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf diikuti tanda titik pada setiap huruf: a.n., s.d.
5.      Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik: cm, Cu
6.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital: ABRI, PASI
7.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital: Akabri, Iwapi
8.      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil: pemilu, tilang.

I. Angka dan lambang bilangan. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor yang lazimnya ditulis dengan angka Arab atau angka Romawi. 

1.      Fungsi
1.      menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas,
2.      melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat,
3.      menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.

2.      Penulisan
1.      Lambang bilangan utuh dan pecahan dengan huruf
2.      Lambang bilangan tingkat
3.      Lambang bilangan yang mendapat akhiran -an
4.      Ditulis dengan huruf jika dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan
5.      Ditulis dengan huruf jika terletak di awal kalimat. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat
6.      Dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca bagi bilangan utuh yang besar
7.      Tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi
8.      Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

J. Kata ganti

1.      Ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya: kusapa,kauberi
2.      Ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya:bukuku, miliknya.

K. Kata sandang. si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya:sang Kancil, si pengirim.

III. Pemakaian tanda baca

A. Tanda titik

1.      Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
2.      Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar (tidak dipakai jika merupakan yang terakhir dalam suatu deretan)
3.      Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu
4.      Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka
5.      Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya (tidak dipakai jika tidak menunjukkan jumlah)
6.      Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya
7.      Tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.

B. Tanda koma

1.      Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan
2.      Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan
3.      Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya (tidak dipakai jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya)
4.      Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi
5.      Dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat
6.      Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat (tidak dipakai jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru)
7.      Dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan
8.      Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka
9.      Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki
10.  Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga
11.  Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka
12.  Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi
13.  Dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca.

C. Tanda titik koma

1.      Dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara
2.      Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.


D. Tanda titik dua

1.      Dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian (tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan)
2.      Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
3.      Dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
4.      Dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

E. Tanda hubung

1.      Dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris (Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris)
2.      Dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris (Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris)
3.      Dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang
4.      Dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal
5.      Dapat dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata
6.      Dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap
7.      Dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

F. Tanda pisah

1.      Dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat
2.      Dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas
3.      Dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'
4.      Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda tanya

1.      Dipakai pada akhir kalimat tanya
2.      Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya

H. Tanda seru

1.      Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

I. Tanda elipsis

1.      Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
2.      Dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan
3.      Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.

J. Tanda petik

1.      mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain
2.      mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat
3.      mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus
4.      Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5.      Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat
6.      Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

K. Tanda petik tunggal

1.      mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain
2.      mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

L. Tanda kurung

1.      mengapit keterangan atau penjelasan
2.      mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan
3.      mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan
4.      mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

M. Tanda kurung siku

1.      mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli
2.      mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

N. Tanda garis miring

1.      dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim
2.      dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.

O. Tanda penyingk

            Menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

http://fatihalqurba.wordpress.com/2013/04/05/ejaan-tanda-baca-dan-jenis-jenis-ejaan/
http://rendy-zein.blogspot.com/
»»  READMORE...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RAGAM BAHASA

RAGAM BAHASA

Pengertian ragam dalam bahasa bahasa indonesia adalah tingkah, jenis, langgam, corak dan laras. Jadi ragam bahasa bisa diartikan sebagai variasi berbahasa menurut mereka yang memakai yang dibedakan menurut topik pembicaraan, sikap penutur dan media atau juga sarana yang digunakan.

DASAR-DASAR RAGAM BAHASA

Dimana seseorang dapat menguasai atau mengetahui kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa. Pada ragam bahasa yang paling pokok adalah seseorang itu menguasai atau mengetahui kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa. Kerena kaidah bahasa dianggap sudah diketahui, uraian dasar-dasar ragam bahasa itu diamati melalui skala perbandingan bagian persamaan bagian perbedaan. Dasar-dasar ragam bahasa yang akan diperbandingkan itu didasarkan atas sarana ragam bahasa lisan dan ragam tulisan.
Dalam pembelajaran yang pernah kita pelajari, kita sebagai pelajar tahu setidaknya anda berhubungan dengan dua ragam bahasa yaitu, ragam lisan dan ragam tulisan.

1.      RAGAM LISAN DAN TULISAN
Bahasa indonesia yang amat luas wilayah pemaikainya ini dan bermacam-macam pula latar belakang penuturnya, mau tidak mau akan melahirkan sejumlah ragam bahasa. Adanya bermacam-macam ragam bahasa ini sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungan yang berbeda-beda. Ragam bahasa ini pada pokoknya dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu ragam lisan dan tulis
Kedua ragam ini berbeda, perbedaannya adalah sebagai berikut:
a.      Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada didepan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak diharuskan adanya teman bicara berada didepan pembicara.
b.      Didalam ragam lisan, unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti SPO tidak selalu ditanyakan, sedangkan ragam tulis itu perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan.
c.       Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang, dan waktu sedangkan ragam tulis tidak terikat dengan kondisi, situasi, ruang, dan waktu.
d.      Ragam lisan dipengaruhi oleh intonasi, tekanan, nada, irama, dan jeda sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.

2.      RAGAM BAKU DAN TIDAK BAKU

Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.

3.      RAGAM BAKU TULIS DAN RAGAM BAKU LISAN

Setelah mengenal ragam baku dan tidak baku serta ragam tulis dan lisan maka munculah ragam baku tulis dan ragam baku lisan.  Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku ilmiah lainnya. Sedangkan seseorang bisa dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.

4.      RAGAM SOSIAL DAN FUNGSIONAL

Ragam lisan maupun ragam tulis dalam bahasa indonesia ditandai oleh adanya ragam sosial, yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesempatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat.
Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut sebagai ragam profesional, adalah ragam bahsa yang berkaitan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya.


  
CONTOH RAGAM BAHASA

Sudah tidak asing lagi bagi seluruh rakyat Indonesia. Beginilah menjelang senja di jantung ibu kota. Sekelompok anak-anak berkumpul, mereka sedang mengobrol dan bercanda ria. Ada juga anak SMP duduk berdua-dua, di bangku yang terbuat dari semen itu, di atas jok motor, atau di halte. Ada juga anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.

Di salah satu anak tangga, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Runi duduk menghadap ke jalan raya yang amat sangat ramai itu. Hanya melihat suasana kota yang amat sangat macet dan panas itu. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.

Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. "Hei, Apa kabar?" katanya memperlihatkan senyumannya yang tidak berubah dari jaman dahulu kala. Sambil menyapa dan tersenyum melihatnya.
"Kamu di sini?" Runi tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Reyna ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.
Begitu juga Tampan, seorang pria yang berdiri di depan Runi tersebut. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.

Hingga Runi kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Tampan di sebelahnya untuk duduk disampingnya yang amat dia rindukan sejak lama.
"Kamu kaget ya?" tanya Tampan, duduk di sebelah Runi.
Runi tertawa kecil.
"Gimana kabar kamu, apakah baik baik saja bukan?" tanya Runi tak jelas arahnya. "Lama sekali nggak ketemu."
"Iya. Alhamdulillah baik. Kamu juga apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Berapa tahun ya? Dua sampai tiga tahun bukan lamanya?".
"Sepuluh tahun!" jawab Runi pasti.
"Ouw! Sepuluh tahun. Dan kamu masih semanis dulu tidak berubah wajahnya."
"Terima kasih," Runi tersenyum manja. Masih ’semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Runi tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.

"Kamu kapan datang disini?" tanya Runi. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.
"Belum lama kok, ya kira-kira kurang dari dua minggu," jawab Tampan.
"Pasti kamu mencariku kan? hahahaha". Runi tertawa dengan lepasnya. Sisa genit yang ditinggalkan di masa muda.
Tampan tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, "Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," tawanya menghilang.
“Iya, Terima Kasih ya, sudah lama aku ingin bercerita kepada seseorang tetapi tidak ada yang tepat untuk bercerita”. Dengan nada terisak isak.
“Loh? Memang ada apa? Mungkin saja ada yang bisa saya bantu untuk kamu”. Jawabnya.
“Iya Tampan, jadi begini suamiku itu baru saja mengalami sebuah kecelakaan saat dia sedang mengikuti acara di kantornya”. Jawab sang istri.
“Kecelakaan? Yang benar kamu. Memang kecelakaan dengan menaikkan kendaraan apa?” jawab si Tampan.
“Iya, suamiku itu sedang menaiki sebuah Bus yang mengarah ke sebuah daerah untuk dia ditugaskan disana bersama rekan kantornya”. Dengan nada yang tidak berubah.
“Oh ya? Innalillahi. Kamu yang sabar ya menghadapi ini semua, mungkin ini semua sudah takdir Allah. Kita sebagai manusia tidak bisa merubah takdir Allah. Kamu yang tabah dan sabar ya Run. Semua pasti ada hikmahnya”. Jawab si Tampan dengan nada tersedu.
“Iya, mungkin ini semua sudah takdirnya suamiku dipanggil duluan oleh sang maha kuasa. Mau gimana lagi semua sudah terjadi”. Jawab si Runi.
“Iya benar run, yang menting kamu tetap tabah menghadapi ini semua.” Jawab Tampan.
“Iya terima kasih ya Tampan telah mendengarkan cerita aku yang sudah lama aku pendam ini”. Jawab Runi.
“Iya sama-sama ya Run”. Jawab Tampan.

            Setelah melakukan percakapan diatas mereka pun pergi berjalan-jalan menggunakan angkot ataupun kendaraan umum lainnya. Dan mereka juga saling bertukar pikiran atau informasi selama mereka tidak bertemu dengan waktu yang cukup lama. Mereka memandangi pemandangan yang amat indah di Indonesia ini. Sudah lama mereka ingin sekali bertemu kembali dan akhirnya dapat bertemu di lain kesempatan. Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah Mall elit disebuah kota di Indonesia ini.
»»  READMORE...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BAHASA

I. PENGERTIAN BAHASA

                Kita pasti sebagai bangsa yang berbahasa tau apa itu arti sebuah bahasa, Bahasa itu bias diartikan sebagai alat komunikasi antar semua orang. Untuk karena itu Bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi atau juga bias diartikan sebagai menyampaikan sebuah pikiran yang ada didalam pikiran kita, gagasan, atau konsep atau juga bisa perasaan. Bahasa tidak hanya berapa diindonesia. Bahasa itu beragam. Disetiap Negara atau pulau sekalipun pasti memiliki sebuah Bahasa di masing-masing daerahnya atau di kota kota diluar negeri. Banyak macam Bahasa dibelahan dunia yang kita banyak ketahui. Bahasa itu diberbagai belahan bumi banyak yang menggunakan Bahasa yang terdapat didaerah tersebut.


II. BAHASA INDONESIA


            Bahasa indonesia adalah bahasa yang digunakan oleh negara kita sendiri yaitu negara republik indonesia. Bahasa Indonesia sendiri adalah salah satu bahasa dari banyak ragam bahasa melayu. Bahasa Indonesia juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang biasa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan teman,kerabat, maupun keluarga kita sendiri. Dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang untuk memudahkan kita dalam menambah informasi maupun lainnya. Banyak ragam bahasa yang ada diindonesia. Bahasa Indonesia sendiri pun digunakan di universitas, di media massa, surat menyurat juga dan masih banyak lagi yang kita ketahui. Kita sebagai orang Indonesia juga harus menggunakan bahasa yang baik dan benar dengan semua orang. Dahulu kala Indonesia menggunakan bahasa melayu kemudian diganti dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia digunakan pada saat sumpah pemuda. Kita sebagai orang Indonesia harus bangga dengan bahasa yang ada sejak dahulu. Untuk memudahkan berkomunikasi antar semua orang. Di bahasa Indonesia kita juga harus mengenal EYD(Ejaan Yang Disempurnakan) agar kita mudah mengerti apa yang dikatakan oleh orang. Sebut saja penduduk asli sumatera sebelumnya menggunakan bahasa melayu tersebut adalah nenek moyang suku nias dan suku mentawai. Dalam perkembangannya bahasa melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah kepulauan melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara. Didalam bahasa indonesia kita juga harus mengenal yang namanya dengan puisi maupun pantun dan lain-lainnya yang banyak berada di indonesia kita sendiri. Banyak yang kita harus pelajari tentang bahasa. Terutama bahasa bangsa kita sendiri yaitu bahasa indonesia. Disisi lain kita harus belajar memahami makna dan isi yang berada didalam bahasa tsb yang diketahui secara turun menurun dari jaman dahulu kala. 
              
               Contoh puisi yang berbahasa indonesia.

                                    Keindahan Alam
                                  Puisi Cahyaning P.

     Bak gelombang jiwa diudara.
     Laksana sinar di pagi hari
     Bagaikan rembulan mengarungi samudera
     Seperti peri kehilangan cahaya matahari

                     Meskipun langit menyinari bumi
                     Mirip bola disenja kelap
                     
     Umpama terbang setinggi awan
     Bagaikan bintang menghiasi malam
     Sinar matahari bagaikan surya

                itu merupakan contoh puisi. Masih banyak sebenarnya yang kita harus ketahui apa yang ada didalam bahasa indonesia tersebut. banyak puisi, pantun, cerita pendek, cerita rakyat, dan lain lain. Kita harus bangga menjadi bangsa indonesia karena banyak beragam suku dan budaya didalam negeri kita. Terutama bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahasa indonesia. Mari gunakan bahasa yang baik dan benar agar mudah dipahami dan dimengerti dengan apa yang kita pelajari selama ini.

»»  READMORE...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS